Kasus Perang Suku di Papua Dilimpahkan Kepada Polisi

Nasional1 Views

kabarin.co – JAKARTA, Staf khusus presiden asal Papua Lenis Kogoya mengatakan perang suku di daerahnya masih marak terjadi, khususnya daerah sekitar PT Freeport Indonesia.

Ia menjelaskan, perang suku dipicu oleh konflik ekonomi, dimana PT Freeport Indonesia yang sudah diberi hak ulayat oleh masyarakat adat justru menjual besi tua milik warga suku ke luar Papua.

“Dari situ, (besi tua masyarakat adat) dijual di luar Papua. Masyarakat mengadu ke kita, kita tangani, kita cek ternyata hasil penjualan besi dikirim dari freeport, baru akan dikasih ke masyarakat. Tapi sebelumnya masyarakat harus kasih proposal dulu. Masyarakat tujuh suku hanya bisa jadi pendulang sampah saja, kena bahan kimia, kebanyakan mati, akhirnya perang suku terjadi,” jelas Lenis di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (26/9/2016).

Ia pun mengatakan pihaknya sudah mempercayakan masalah ini kepada Kapolri Jenderal Pol Tito Kranavian. Sejumlah pelabuhan penampung besi tua yang dijual Freeport akan diperiksa oleh kepolisian.

“Jadi itu masalah besar, maka sekarang kita percayakan ke Kapolri untuk mengecek lokasi-lokasi pelabuhan seperti pelabuhan di Tangerang, Priok, hampir 30 lokasi penampung besi diperiksa. Itu sudah ditangani oleh Kapolri,” katanya.

Selain masyarakat adat di sekitar PT Freeport, Lenis juga melaporkan pada Presiden Joko Widodo (Jokowi) perang suku yang terjadi di sejumlah daerah di Papua.

“Saya harus tangani dulu masalah persoalan di Papua, perang suku di Mimika. Terus masyarakat pengungsi di Timika, Jayapura, Sentani. Terus perang antara gunung dan pantai di Jayapura, Sentani, juga masalah yang terjadi di daerah, bukan di Papua saja tapi juga di Jawa, termasuk masalah ulayat di Kalimantan,” papar Lenis.(okz)

Baca Juga:

Tawuran Antar Mahasiswa USU Medan Menyebabkan 10 Orang Terluka

“Perang-perangan” yang Berbuntut Tawuran Antarkampung di Majene

Tawuran di Luar Batang Tewaskan 1 Orang, ini Kesaksian Warga