Semen Padang Mati Pelan-Pelan ??

Opini71 Views

Oleh: Verry Mulyadi
Tokoh Masyarakat Lubuk Kilangan

 

KONDISI Semen Padang yang tergabung dalam Indonesia Group setiap tahunnya semakin menurun. salah satu indikator Semen Padang ini menurun kinerjanya dilihat dari hasil produksi semen yang mengalami penurunan. Hal ini dibuktikan dengan berhentinya produksi dari Pabrik Indarung II,III dan IV.

Bahkan di triwulan pertama tahun 2023 ini juga mengalami tren semakin parah. Karena penulis mendapat informasi bahwa Pabrik Indarung V juga tidak lagi memproduksi semen, malah hanya memproduksi klinker saja lagi. Sehingga tinggal Pabrik Indarung VI saja yang memproduksi semen.

Keadaan begini diartikan Semen Padang mati pelan-pelan. Kenapa demikian, karena penulis mengartikan begitu, karena kuat dugaan tudak ada upaya yang luar biasa dari manajemen Semen Padang untuk menggenjot penjualan semen, karena produksi semen yang terus menurun. Manajemen seolah-olah tak berdaya menghadapi kompetitor, sehingga produksi semen terus menurun karena semen kurang kencang penjualannya di pasaran.

Dikuti dari laman media investor.id, volume penjualan Semen Indonesia Grup sepanjang 2022 turun 13,7% menjadi 34,9 juta ton. Sedangkan pendapatan turun 1,3% selama 2022 menjadi Rp 34,5 triliun. Namun secara keseluruhan, SIG mampu membukukan pertumbuhan laba sebesar 12,7% (yoy) menjadi Rp 2,3 triliun

Penulis mengartikan bahwa penjualan Semen Indonesia Group di pasaran tidak lagi laris di pasaran. Terbukti penjualan domestik dan ekspor anjlok. Sehingga produksi berkurang dan mengakibatkan 3 pabrik di Semen Padang menjadi berhenti beroperasi. Begitupun dengan beberapa pabrik lainnya yang tergabung di SIG juga tutup.

Jika laporan keuangan PT Semen Indonesia Group di tahun 2022 bagus karena mampu mencetak laba, itu karena mereka hanya berupaya melakukan penghematan besar-besaran guna menekan beban operasional perusahaan.

Kondisi kinerja Semen Padang yang bagus hanya diatas kertas, akan tetapi kondisi realnya tidak. Apakah tidak ada terobosan luar biasa dari manajemen untuk membangkitkan kembali kinerja Semen Padang ini. Apa dengan terus melakukan efisiensi perusahaan saja langkah manajemen untuk mengamankan kinerja perusahaan.

Menurunnya kinerja Semen Indonesia Group khususnya pada Semen Padang, sangat berdampak kepada sosial dan ekonomi lapisan masyarakat yang mengais rezeki dari hadirnya perusahaan dengan logo tanduk kerbau itu.

Dampak yang dirasakan yakni usaha masyarakat sudah banyak yang mengalami kemunduran, seperti tutupnya warung-warung makan, perputaran ekonomi pasar Bandar Buat yang sudah tak bergairah lagi, serta omset penjualan pedagang di pasar Raya Padang yang juga berkurang jauh pasca daya beli pegawai Semen Padang tak lagi ada, sejak pendapatan pegawai juga menurun.

Ditambah pengerukan sebanyak 30.000 ton per hari batu kapur dari Bukit Karang Putih yang menghasilkan produk klinker dengan jumlah ratusan ribu ton/bulan, dan mengirim klinker ke perusahan Holding sangat melukai hati masyarakat Lubuk Kilangan.

Karena Semen Indonesia sebagai Holding hanya mengeruk keuntungan untuk dibawa ke pusat , serta tidak memperhatikan segala aspek akibat dari kebijakan sepihak dari mereka.

Padahal masyarakat Lubuk Kilangan rela menyerahkan lahan batu 412 hektar mereka untuk kelanjutan produksi PT Semen Padang, dengan perjanjian dimana salah satu poinnya menyatakan bahwa PT Semen Padang tidak boleh menyerahkan atau mengalihkan kepada pihak ke tiga. Sekarang kenyataannya batu kapur di keruk untuk klinker lalu di ekspor ke perusahaan holding.

Lahan masyarakat terus dikeruk, sementara kesejahteraan masyarakat dan karyawan PT Semen Padang berkurang. Dulu kesejahteraan karyawan Semen Padang yang tinggi, membuat perputaran ekonomi masyarakat juga bergerak kencang. Sekarang justru sebaliknya, putaran ekonomi lesu karena kesejahteraan karyawan berkurang jauh.

Tak hanya karyawan dan masyarakat yang kesejahteraannya mulai berkurang. Saat ini pun sudah mulai dirasakan oleh suplier atau rekanan yang melakukan kerjasama dengan Semen Padang. Seperti suplier yang menyediakan tanah clay, bahan baku gipsum, bahan baku batubara, suplier transportir, dan lain sebagainya.

Bahan bahan yang dipesan perusahaan sudah semakin berkurang, karena produksi pabrik berkurang, yang mengakibatkan pendapatan rekanan pun menjadi berkurang.

Penulis pun juga kembali memprediksi, kalau begini terus kondisi perusahaan, dampaknya karyawan yang ada saat sekarang ini bisa di PHK, sebagai akibat dari kebijakan efisiensi beban perusahaan.

Apalagi kalau dilihat dalam beberapa tahun terakhir lapangan kerja tak terbuka. Padahal masyarakat sangat menantikan lapangan kerja terbuka, karena mendambakan bekerja di PT Semen Padang.

Penulis berharap lahir sebuah pemikiran yang bernas untuk menghasilkan inovasi-inovasi dari manajemen yang jotu, agar bisa mendongkrak penjualan semen.

Sekaligus juga penulis menghimbau kepada seluruh masyarakat Sumatera Barat, agar terus mencintai dan memakai produk-produk yang dihasilkan Semen Padang. Karena kualitasnya tidak perlu dipertanyakan lagi untuk seluruh jenis pembangunan infrastruktur. Baik itu infrastruktur perumahan, jalan, jembatan maupun infrasktur lainnya. (***)