Tunggal Ika dan (Matinya) Kedaulatan Rakyat Orasi Gde Siriana di depan gerbang DPR pada aksi 212

Opini15 Views

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Saudara-saudara sebangsa dan setanah air.

Allahu akbar. Merdeka !

kabarin.co – Di pagar rumah rakyat yang terhormat ini, kami ingin sampaikan kepada seluruh rakyat Indonesia bahwa kedaulatan rakyat telah mati! Dan tanpa kedaulatan rakyat, mustahil Bhinneka Tunggal Ika terwujud!

Bagi bangsa di Kepulauan Nusantara, Kebhinekaan adalah rahmat Tuhan yang maha Esa. Dan Tunggal Ika adalah suatu perjuangan melalui proses kultural untuk menyatukan kebhinekaan menjadi kesatuan kultur dan sosial dalam sebuah gerakan kemerdekaan menjadi NKRI.

Kebhinekaan adalah takdir sejarah. Tunggal Ika adalah perjuangan terus menerus untuk menjaga kebhinekaannya tetap dalam kesatuan semangat dan visi dalam gerak langkah NKRI.

Tetapi saya katakan tidak serta merta Tunggal Ika mewujud begitu saja tanpa kedaulatan rakyat. Kedaulatan rakyat adalah syarat mutlak bagi Tunggal Ika nya kebhinekaan. Mengapa demikian?

Karena para pendiri bangsa tidak pernah mengusahakan Tunggal Ika melalui pemaksaan, bahkan melalui iming-iming uang. Saat itu, tidak pernah tokoh-tokoh Jawa memaksakan tokoh-tokoh Sumatera, Sulawesi, Kalimantan dan daerah lain untuk bergabung dalam NKRI. TIdak pernah ada tokoh-tokoh Islam yang merupakan mayoritas dalam perjuangan melawan kolonialisme di semua pulau-pulau Nusantara memaksa tokoh-tokoh non Muslim untuk bergabung.

Tunggal Ika adalah kesadaran seluruh suku dan agama yang ada di Kepulauan Nusantara, kesadaran yang lahir dari proses kultural selama ratusan tahun sebelumnya, kesadaran yang lahir dalam melihat masa depan, kesadaran yang lahir dari gagalnya perjuangan yang telah dilakukan sendiri-sendiri, kesadaran yang lahir dari keinginan untuk menjadi bangsa merdeka.

Juga kesadaran dan keyakinan dari minoritas suku dan agama, bahwa mayoritas suku dan agama di Nusantara akan menjaga minoritas dalam bentuk NKRI yang akan diperjuangkan. Jika mayoritas kuat dan benar akhlaknya maka minoritas akan dilindungi. Jika mayoritas terpecah belah dan hancur akhlaknya maka yang menjadi korban adalah minoritas. Ini adalah Tesis bagi bergabungnya mayoritas dan minoritas di Nusantara bersatu dalam gerak kemerdekaan menjadi NKRI.

Saudara-saudara sebangsa dan setanah air.

Tunggal Ika adalah perjuangan tak pernah selesai. Saya katakan Tunggal Ika harus dijaga dengan kedaulatan rakyat. Itulah mengapa demokrasi kita adalah demokrasi kerakyatan, bukan demokrasi liberal ala barat. Itulah mengapa demokrasi kita dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawatan/perwakilan. Pahami lah dua kata ini, kebijaksanaan dan permusyawaratan/perwakilan. Keduanya tidak ada dalam demokrasi liberal ala Barat yang menempatkan suara terbanyak sebagai ibu demokrasi mereka. Suara terbanyak bukan kebijaksanaan. Suara terbanyak bukan permusyawaratan.

Suku dan agama minoritas saat ingin bergabung menjadi NKRI karena ada Pancasila sila-4 yang akan menjamin keterwakilan dan kepentingan minoritas. Sebab jika dengan suara terbanyak, justru mereka akan menjadi kelompok yang terpinggirkan dalam perjalanan NKRI selanjutnya.

Saudara-saudara sebangsa dan setanah air.

Maka saat ini yang dilakukan oleh para neo-imperialis untuk menguasai NKRI adalah dengan membunuh kedaulatan rakyat. Dengan matinya kedaulatan rakyat maka Tunggal Ika akan runtuh dengan sendirinya. Dan akhirnya kebhinekaan tidak lagi sebagai NKRI tetapi sebagai negara-negara yang terpisah atau federal.

Kasus penistaan agama oleh Ahok adalah anti-tesa bagi Tunggal Ika. Terpilihnya Setya Novanto kembali sebagai Ketua DPR adalah Anti-tesa bagi kedaulatan rakyat. Bagaimana mungkin, seseorang yang sudah dituduh publik terlibat dalam “Papa Minta Saham” yang karena itu mundur dari ketua DPR justru dipilih kembali? Sementara para peneriak “Papa Minta Saham” sebelumnya, kini diam seribu bahasa karena sudah menjadi komisaris BUMN atau staf ahli di berbagai lembaga negara. Bahkan Presiden Jokowi pun mendukung ini karena membiarkannya. Berbeda sekali dengan sikap marah yang ditunjukkan saat namanya dicatut dalam rekaman “Papa Minta Saham”.

Saya katakan, bahwa Kedaulatan Rakyat telah mati saudara-saudara. Para elit bangsa telah membiarkan kedaulatan rakyat ini mati oleh uangnya para pemilik modal yang menjadi antek asing dan aseng. Tragisnya Kedaulatan rakyat ini dibajak oleh pihak-pihak yang menuduh para pejuang Tunggal Ika sejati sebagai pengganggu kebhinekaan. Siapakah pejuang Tunggal Ika yang sebenarnya? Mereka elit-elit partai di Senayan atau Habib Rizieq Syihab dan Rahmawati Soekarno Puteri yang berjuang bersama umat Islam dan kelompok nasionalis dalam aksi 411 dan 212?

Saudara-saudara, Tunggal Ika memerlukan keadilan hukum, keadilan ekonomi, keadilan sosial…tanpa kedaulatan rakyat, maka tidak ada keadilan apapun. Itulah kenapa saya tegaskan sejak awal, Tunggal Ika adalah perjuangan yang tidak pernah selesai.

Dan sekarang umat Islam berada di tengah-tengah perjuangan mengembalikan kedaulatan rakyat…melalui penegakan hukum kasus Penistaan agama. Saya yakin perjuangan ini menjadi momentum bagi perjuangan lainnya untuk mengembalikan kedaulatan rakyat.

Penguasa langit hanya melahirkan momentum, tapi membesarkan wujud perjuangan adalah melalui ikhtiar, bukan tercipta dengan sendirinya. Dan harus disadari sejak awal, dalam setiap perjuangan selalu ada pihak-pihak yang justru melemahkan perjuangan. Maka beruntunglah jika saat ini masih ada orang-orang seperti Habib Rizieq dan Rachmawati Soekarno yang tetap menjaga jalan dan semangat perjuangan itu. [***]

Merdeka!

Wassalamualaikum Wr Wb

Disampaikan dalam pidato aksi 212 di pagar DPR

Gde Siriana 

Penulis merupakan pengamat dari Soekarno Institute for Leadership

Baca Juga:

Lily Wahid Ambil Alih GS NKRI, Pasca Penangkapan Rachmawati

TNI Akan Melawan Pengaruh Partai Komunis Cina di NKRI

Isu Makar Dari Kalangan Istana Sendiri