Gara-gara Kalah dari India. Indonesia Diambang Sejarah Terburuk di Piala Sudirman

kabarin.co – Tumbangnya timnas Indonesia atas India pada ajang Piala Sudirman 2017 di Carrara Sport and Leisure Center, Gold Coast, Australia, Selasa (23/5) kemarin, sangat menyakitkan.

Selain menipiskan harapan untuk lolos ke perempat final, untuk pertama kalinya Indonesia kalah dari India di ajang beregu campuran itu. Tak hanya itu, Indonesia kini diambang sejarah terburuk sepanjang keikutsertaan di Piala Sudirman.

Rabu (24/5) sore ini pukul 15.00 WIB, Indonesia akan melakoni partai terakhir di grup 1D, melawan Denmark. Tekanan besar membebani tim Indonesia. Kekalahan 1-4 dari India membuat langkah Indonesia untuk sekadar lolos dari penyisihan grup benar-benar berat. Sangat berat karena yang akan dihadapi adalah Denmark. Di atas kertas, kekuatan Denmark lebih baik dari India. Sebelumnya, Denmark mengalahkan India 4-1.

Lebih berat lagi karena Indonesia harus menang setidaknya 4-1 dari Denmark. Kemenangan 4-1 itu adalah syarat minimal. Indonesia wajib menang dua set langsung dalam setiap nomor. Dengan begitu, jumlah set yang dipertandingkan hanya 22 set, karena masih akan dihitung dengan match difference, game difference, poin, dan faktor penentu lainnya.

Jadi, India dan Denmark sekarang berada di atas angin. Satu-satunya jalan bagi Indonesia agar aman lolos ke perempat final adalah mengalahkan Denmark dengan skor 5-0. Mission Impossible untuk tim yang didominasi skuat muda.

Indonesia pun berada pada bayang-bayang sejarah terburuk pada partisipasi di turnamen yang namanya terinspirasi dari mantan Ketua PBSI Dick Sudirman tersebut. Belum pernah sekali pun wakil Merah Putih sudah terhenti di penyisihan grup.

Untuk menghindari sejarah buruk, kerja keras saja tak cukup bagi skuad Merah Putih. Harus ada keberuntungan di dalamnya. Sebab, dari segi peringkat dunia saja, Indonesia hanya menang di dua sektor. Yakni ganda putra untuk Marcus Fernaldi dan Kevin Sanjaya (peringkat 1) dan tunggal putri atas nama Fitriani (peringkat 23).

Namun optimisme masih diapungkan. Manajer tim Indonesia Susy Susanti mengatakan dalam pertandingan apa pun bisa terjadi. Artinya bukan sesuatu yang bisa dihitung seperti matematika. ’’Kami berusaha maksimal saja. Yang penting anak-anak memberikan permainan terbaiknya besok (hari ini, RED),’’ terangnya.

Susy tidak menampik jika tim yang dibawanya kali ini memang dalam kondisi pas-pasan. Indonesia hanya mengandalkan ganda putra Kevin/Marcus saja untuk mendulang poin. Selebihnya, permainan strategi dan kesiapan mental bertanding pemain yang menentukan.

Pelatih tunggal tim Indonesia Hendri Saputra menyebut memag mustahil bisa mengalahkan Denmark dengan skor telak 5-0. Namun, dia bakal berusaha semaksimal mungkin mengingat Denmark punya pemain tunggal putra yang sangat baik. ’’Ada (Victor) Axelsen, bagus mainnya. Sama-sama masih muda,’’ jelasnya.

Ditanya siapa yang bakal diturunkan, Hendri masih belum bisa menjawab. Yang jelas, dia menunggu pembicaraan dulu dengan seluruh tim untuk memutuskan siapa yang bakal bertanding lawan Denmark. ’’Jojo dan Ginting sudah pernah bertemu pemain Denmark. Tidak pernah menang,’’ ujarnya. (*)