Sengketa Lahan, Yayasan Gunakan Preman, Sekolah Digembok, Sang Jendral Pun Diteriaki

Daerah20 Views

kabarin.co, MEDAN-Ratusan orangtua siswa yang anaknya sekolah di Yayasan Cinta Budaya di Jl Medan Estate, Desa Medan Estate, Percut Seituan, Deliserdang mendobrak paksa pagar yang sempat digembok mantan Pangdam I/BB, Mayjend TNI (Purn) Burhanuddin Siagian.

Para orangtua dibantu sekuriti memukuli gembok pagar dengan martil. “Buka pagarnya. Jangan digembok. Anak-anak kami mau sekolah. Tolonglah pak,” teriak ratusan orangtua siswa sembari mendobrak pagar, Senin (18/7/2016).

Karena situasi mulai tidak kondusif, Kapolda Sumut, Irjend Pol Raden Budi Winarso langsung turun tangan. Ia kemudian menuju pagar dibawah guyuran hujan deras.

“Kalian semua mundur. Jangan ada yang memprovokasi. Saya perintahkan kalian untuk tenang,” teriak Kapolda di halaman sekolah.

Melihat Kapolda meradang, jajaran perwira Polda Sumut dan Polresta Medan termasuk Kapolresta Medan, Kombes Mardiaz Kusin Dwihananto dan Komandan Satuan Brimob, Kombes Nirboyo langsung berusaha meminta orangtua siswa untuk tenang. Kedua perwira tinggi ini tampak kewalahan menenangkan orangtua siswa.

Orang tua itu meneriaki sang mantan Pangdam I Bukit Barisan
Sengketa lahan seluas lebih kurang 2,3 hektar di Jl Medan Estate, Desa Medan Estate, Kecamatan Percut Seituan, Deliserdang antara mantan Pangdam I/BB, Mayjend TNI (Purn) Burhanuddin Siagian dengan Yayasan Sekolah Cinta Budaya terus berlarut.

Buntutnya, pagar sekolah Cinta Budaya digembok mantan Pangdam. Saat penggembokan terjadi, orangtua siswa yang meradang meneriaki mantan Pangdam I/BB, Mayjend TNI (Purn) Burhanuddin Siagian. Para orangtua menyebut Burhanuddin tidak punya hati nurani.

“Bapak itu mantan petinggi TNI. Harusnya punya hati lah pak. Anak-anak kami sudah hujan-hujanan mau sekolah. Bapak tidak punya hati nurani,” teriak ratusan orangtua siswa di depan pagar sekolah, Senin (18/7/2016).

Mereka mengatakan, Burhanuddin hanya mementingkan kepentingannya sendiri. Ia dituding tidak memiliki perasaan terhadap pendidikan.

“Kalau bapak mementingkan pendidikan, tolong pagarnya dibuka. Jangan biarkan kami menunggu hujan-hujanan seperti ini,” teriak orangtua siswa.

Dibawah guyuran hujan, anak-anak sekolah Yayasan Cinta Budaya mulai basah kuyup. Seragam sekolah baru yang mereka kenakan sudah tampak kusam karena terlalu lama berdiri dibawah hujan deras

“Mundur semua. Jangan ada yang mendobrak pagar lagi. Jangan ada yang mendorong-dorong pagar,” kata Raden sembari membawa tongkat komandonya.

Penjelasan Mantan Pangdam I/BB soal Penggebokan Pagar Sekolah Cinta Budaya
Mantan Pangdam I/Bukit Barisan, Mayjend TNI (Purn) Burhanuddin Siagian akhirnya memberikan keterangan terkait penggembokan pagar Sekolah Cinta Budaya yang dilakukannya.

Burhanuddin mengatakan ada beberapa alasan kenapa pagar sekolah itu digembok.

“Saya sudah jelaskan semua kepada Kapolda. Kapolda ingin menjadi mediator. Jadi, terkait persoalan ini, hari Jumat yang lalu sebenarnya saya sudah bicara dengan Akok (perwakilan yayasan). Namun, dari yayasan malah menggunakan preman,” ungkap Burhanuddin, Senin (18/7/2016).

Ia menjelaskan, karena pihak yayasan sudah menggunakan cara-cara yang tidak wajar, dia pun kemudian bertindak. Dalam hal ini, Burhanuddin pun menyebut bahwa Yayasan Cinta Budaya telah menyerobot tanahnya.

“Saya sudah beritahu (sama yayasan). Apalagi soal SHGB (surat hak guna bangunan). Itu (SHGB) kan sudah dibatalkan,” ungkap Burhanuddin.

Dengan dibatalkannya SHGB tersebut, seharusnya Sekolah Cinta Budaya mematuhi aturan yang berlaku. Namun kata dia, pihak yayasan terus tidak mempedulikan somasi yang sudah berulangkali dilayangkannya.

“Begini, SHGB nya kan sudah dicabut. Kalau bangunan ini nantinya terjadi apa-apa, tentu kan yang punya tanah yang kena. Dalam hal ini adalah saya,” katanya.

Ia mengatakan, sebaiknya Yayasan Cinta Budaya mematuhi aturan yang berlaku. Dia pun sangat menghormati dunia pendidikan. (trb)